Areopolis adalah sebuah kota di
kawasan Balqa’ yang berposisi di sebelah timur Laut Mati, 15 kilometer
ke arah utara dari kota Karak di negara Jordania sekarang yang terletak
di atas plato dari rantai Pegunungan Moab setinggi 1300 meter dari
permukaan Laut Mati yang secara bertahap meninggi dari arah utara ke
selatan, yang di bagian timurnya berbatasan dengan padang pasir Arabia.
Areopolis berasal dari kata Ares dan Polis yang berarti “kotanya Ares”.
Sedangkan Ares sendiri merupakan nama dari dewa perang Yunani Kuno.
Areopolis memiliki iklim Mediterania
yang khas. Udaranya kering dan memiliki curah hujan yang rendah. Di
musim dingin, angin akan bertiup menghembuskan udara dingin yang sangat
menusuk tulang. Dan terkadang pula salju turun di musim itu. Para ahli
sejarah mencatat bahwa pada abad pertama sebelum masehi, kawasan ini
adalah tanah Kerajaan Moab, sehingga kota ini terkenal pula dengan nama
kota Rabbath-Moab. Di waktu selanjutnya, wilayah ini beberapa saat
menjadi daerah kekuasaan Kekaisaran Parthia, kemudian Kerajaan Nabatea
hingga akhirnya diokupasi oleh Kekaisaran Roma saat Kaisar Trajanus
berkuasa. Kekaisaran Roma lalu mendirikan kerajaan semi otonom yang
pengaturannya diserahkan kepada kabilah Ghassan.
Di kawasan kota kuno ini dahulu kala
dibangun markas militer bagi skuadron tempur dan pengamanan wilayah
Kekaisaran Roma. Dan di era Kekaisaran Roma Timur ini, Areopolis juga
berperan sebagai pusat administrasi kekaisaran yang sangat penting. Hal
ini tidaklah mengherankan karena Areopolis terletak pada jalur jalan
raga Via Nova Trajana Bostra-Petra yang menghubungkan kota ini dengan
Nova Trajana Bostra dan kota legendaris Petra.
Pena sejarawan timur dan barat
membukukan catatan bahwa kota inilah yang pertama kali berhasil
ditaklukkan pada ekspedisi para ksatria Islam ke Bilaad asy-Syaam. Prof.
Kaegi menguatkan pendapat Sebeos (seorang tokoh Nashara dan sejarawan
Armenia zaman pertengahan), al-Azdi, Ibnu al-Atsir rahimahullah dan
at-Thabari rahimahullah seputar ekspedisi kaum muslimin ke kota
bersejarah ini. Lalu bagaimanakah rangkuman kisahnya?
Suatu hari di musim dingin di batas
tahun 633-634 M, nampaklah mentari mengangkasa tinggi di atas padang nan
sepi dan gersang. Dengan perkasanya ia menyemburatkan sinarnya ke
seantero jagat sesuai dengan titah Rabb-nya Yang Maha Mulia. Namun tak
hanya bederang yang muncul darinya, tetapi kehangatan juga turut
menyebar. Ya! Di gurun itu, kehangatan mentari begitu cepat terserap
oleh lautan pasir yang membentang. Temperatur siang itu pun beranjak
naik dari titik beku yang menusuk di malam hari menjadi lebih hangat dan
bersahabat. Memang, di kala itu cuaca tidaklah seterik pada musim-musim
panas karena sedang berada di musim dingin. Lautan pasir itu tidaklah
membara, hanya memberikan kehangatan kepada para musafir yang
melewatinya.
Walau mega-mega seolah enggan
menampakkan dirinya dan enggan pula menutupi wajah si raja siang itu,
suasana tetap nyaman dan teduh. Hembusan bayu yang sesekah menerpa,
terkadang menaburkan butiran-butiran pasir lembut yang seolah menyapa
para pelintas. Fatamorgana yang biasa tampak di musim panas dan
mengaburkan serta membatasi penglihatan untuk dapat memandang ke arah
yang lebih jauh lagi, kali ini tiada terlihat.
Nun di kejauhan kaki cakrawala,
lapat-lapat terlihat bayangan hitam sedang bergerak mendekat. Kian lama
bayangan itu menjadi kian jelas di pandangan mata. Itu adalah
iring-iringan sebuah kafilah yang cukup besar yang sedang menjelajahi
padang pasir. Kepulan debu beterbangan di sekeliling mereka, menghambur
dari pasir halus yang terinjak langkah-langkah anggota kafilah itu.
Sesekali terdengar sayup-sayup suara lenguh unta dan ringkik kuda yang
kelelahan berpacu di gurun gersang itu.
Ternyata kafilah itu bukanlah kafilah
biasa, bukan pula kafilah saudagar yang hendak berniaga. Masing-masing
para lelakinya menyandang senjata di tangan, pinggang atau punggungnya.
Tubuh-tubuh mereka tegap dan pandangan-pandangan mata mereka menyorot
dengan tajam, menyiratkan ketegaran jiwa dan kekokohan tekad yang tidak
lekang oleh perjalanan panjang dan dahaga. Semangat mereka tetap
membumbung, terjulangkan oleh kehendak mulia dan suci: hidup mulia atau
mati syahid!
Benarlah dugaan kita. Itu adalah kafilah
perang para ksatria Islam yang sedang memacu langkahnya menuju bumi
Kekaisaran Roma di Levant. Itulah pasukan Abu Ubaidah radhiyallahu
‘anhu. Mereka ingin membebaskan bumi Levant dan penduduknya dari
kesyirikan dan penghambaan terhadap makhluk, menuju penghambaan murni
terhadap Allah Rabb al-Alamin.
Pasukan itu terus mengalir deras dan
semakin mendekat ke daerah tujuannya. Jalan panjang sudah mereka tempuh
dan berbagai tempat sudah mereka lalui. Wadi al-Qura sudah jauh
ditinggalkan di belakang punggung mereka. Begitu pula perkampungan
al-Hijr -yang dahulu kala menjadi tempat bermukim seorang nabi yang
diberi mukjizat berupa seekor unta yang sangat indah yang keluar dari
sebongkah batu-, sejak lama sudah tersinggahi. Pasukan itu terus
berjalan dan melangkah hingga sampailah mereka ke wilayah Ziza.
Langkah maju tidaklah berhenti dan
diselesaikan di sana. Wilayah itu pun segera dilalui oleh mereka.
Kewaspadaan semakin ditingkatkan dan kesiagaan pun dipuncakkan oleh
masing-masing anggota pasukan karena mereka sudah berada di ambang
gerbang pertempuran menghadapi para ksatria Roma yang digdaya. Dari Ziza
ini basis militer Roma tidaklah terlalu jauh jaraknya. Ya! Basis
kemiliteran Roma itu terletak di Areopolis yang tak lama lagi akan
dicapai oleh pasukan mujahidin pejuang Islam.
Memanglah tepat sekali jikalau kaum
muslimin menargetkan Areopolis sebagai sasaran pertama pembukaan Islam.
Adalah sangat berbahaya bagi para ksatria Islam itu untuk menembus lebih
dalam ke wilayah utara kekuasaan Kekaisaran Roma di bumi Levant tanpa
terlebih dahulu melumpuhkan kekuatan skuadron tempur Roma yang berada di
wilayah selatan. Dan tidaklah pula memungkinkan bagi mereka menggelar
operasi militer besar-besaran di wilayah Palaestina Prima yang terletak
di sebelah utara Ngarai Arava dan Laut Mati sebelum menaklukkan benteng
para ksatria Roma di Areopolis.
Reruntuhan Benteng Qasr Rabba Areopolis
Memang benar, mobilisasi dan pengerahan
pasukan dalam jumlah yang sangat besar tentunya membutuhkan persiapan
yang matang dan waktu yang cukup. Sehingga hanya pasukan pilihan dan
khususlah yang dapat segera diberangkatkan karena memang mereka selalu
siap siaga dan diperlengkapi peralatan dan kendaraan tempur yang
mencukupi. Pasukan Roma pimpinan Theodore itu pun berangkat dan terus
mengalir ke arah tataran Balqa’ untuk menggempur pasukan Islam.
Akhirnya, setelah melakukan perjalanan beberapa waktu maka sampailah
mereka ke Areopolis. Di sana mereka memasang kewaspadaan yang penuh dan
segera melakukan persiapan akhir untuk menghadapi pertempuran dengan
kaum muslimin. Ya! Kedua kekuatan tempur itu kini telah terkumpul dan
terkonsentrasi di Areopolis.
Tetapi apakah yang terjadi kemudian?
Kaum muslimin menerapkan strategi perang khusus dalam penyerbuan ke
Areopolis ini. Setelah menempatkan logistik tempur, perbekalan dan
keluarga mereka di tempat yang aman dan terjaga, para ksatria itu segera
melakukan koordinasi dan persiapan penyerbuan. Segala sesuatunya diatur
dalam waktu yang sangat singkat. Segala gerakan dibuat seefektif dan
secermat mungkin. Sungguh, lawan yang akan dihadapi kali ini bukanlah
lawan yang sembarangan. Mereka adalah para ksatria Roma yang berasal
dari berbagai pelosok negeri dan telah berpengalaman pula dalam kancah
pertempuran di seantero Mediterania. Niat-niat kembali diluruskan hanya
mengharap keridhaan-Nya. Ketawakalan kepada-Nya dihunjamkan dalam-dalam
dihati.
Setelah segala sesuatunya dipandang
siap, maka melesatlah Abu Ubaidah radhiyallahu ‘anhu dan pasukannya
menuju barisan Legiun Roma pimpinan Theodore. Tepat sekali dugaan kita!
Kaum muslimin menjalankan manuver blitzkrieg dengan sangat
berani. Para ksatria Islam itu melakukan serbuan kilat dalam menghantam
musuh-musuhnya di Areopolis. Itulah yang dilaporkan oleh Sebeos, seorang
pendeta sekaligus sejarawan Nashara.
Strategi yang sangat tepat dan jitu!
Pasukan tempur Kekaisaran Roma tidaklah memerkirakan serangan yang
secepat kilat itu dari kaum muslimin. Legiun Roma itu sangat terkaget
dengan kondisi yang demikian itu. Mereka sempat panik beberapa saat.
Namun dengan pengalaman tempurnya, mereka mulai dapat memberikan
perlawanan yang cukup sengit kepada pasukan Abu Ubaidah radhiyallahu
‘anhu itu.
Pertempuran pun berkecamuk dan berkobar
dengan dahsyatnya. Pasukan Roma bertempur dengan penuh semangat demi
prestise Kekaisaran Roma dan harga diri mereka. Tetapi semangat pasukan
Islam ternyata lebih tinggi daripada pasukan Roma itu. Memang tidaklah
hal tersebut aneh bagi kita. Bagaimana tidak? Para mujahidin itu
mencintai gugur di medan perang dengan kecintaan yang lebih dahsyat
daripada kecintaan musuh-musuhnya terhadap kehidupan. Oleh karenanya
maka pasukan Islam itu maju ke depan dengan sepenuh hati. Mereka
menyeruak di antara para ksatria Roma dan memorakporandakan barisan
musuhnya itu.
Pasukan Islam terus merangsek maju.
Mereka tanpa kenal lelah menghalau para ksaria Roma itu lebih jauh lagi.
Pedang terus dihunus dan dihantamkan kepada musuh yang membandel. Dan
akhirnya karena dahsyatnya badai serangan pasukan Abu Ubaidah, para
ksatria Roma itu terpaksa tarik diri ke belakang. Kali ini Theodore dan
pasukannya itu mengambil manuver mundur teratur ke utara, ke arah Arnon
Valley. Setelah manuver mundur itu, tentu saja para ksatria Roma itu
tidak akan berpangku tangan menghadapi invasi kaum muslimin ini.
Pastilah mereka akan menyusun ulang dan memersiapkan kekuatan yang lebih
dahsyat lagi.
Dengan mundurnya kekuatan tempur Roma ke
utara, maka Areopolis menjadi lemah. Hanya penduduk sipil saja dan
beberapa gelintir serdadu penjaga keamanan yang ada di sana. Kaum
muslimin kemudian memutuskan untuk mengepung benteng kota. Dengan segala
kesantunan kaum muslimin bernegosiasi dengan penduduk kota itu.
Akhirnya disepakatilah suatu keputusan, dan dibuatlah perjanjian damai
di antara mereka. Dan dilaporkan oleh al-Azdi, Ibnu al-Atsir dan
sejarawan lainnya bahwa kota ini adalah kota di wilayah bilaad asy-Syaam
yang pertamakali melakukan perjanjian damai dengan kaum muslimin.
Ini adalah kemenangan yang gemilang bagi
Abu Ubaidah dan pasukannya. Untuk sementara waktu kaum muslimin dapat
bernafas lega dengan keberhasilan pembukaan ini. Mereka bahagia dan
bersyukur atasnya, sebab tak lain itu adalah karena kemudahan dan
pertolongan dari Allah semata. Walhamdulillaah.
Sumber: Dikutip dari buku Pertarungan di
Damaskus (Versus Exercitus Romanorum II), Abu Royhan Hudzaifah,
Penerbit as Salam Group.
Artikel: www.kisahislam.net

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !